REPUBLIKACO.ID, NEW YORK -- Salah satu tongkat dan topi Bowler Charlie Chaplin, bintang komedi bisu Hollywood dilelang di rumah lelang Bonhams, Amerika Serikat, Ahad (18/11) kemarin. Dalam acara itu, tongkat dan topi Charlie Chaplin berhasil dilelang senilai 62.500 dolar AS. Spesialis Memorabilia Bonhams, Lucy Carr mengatakan, tidak diketahui berapa jumlah Apa yang akan kau lakukan dengan tongkat itu?” tanyanya sambil mulai menangis. “Berikan tongkat itu kepadaku dan aku akan menunjukan kepadamu.” Perlahan-lahan Yohanes berjalan ke pojok, mengambil tongkat itu dan membawanya. padanya. “Aku tahu apa yang kau lakukan dengan tongkat itu!” Tangisnya.” Kau akan. memukulku dengan tongkat Tuantuan yang kurang besar berdiri di latar depan. Mereka pakai topi tinggi dan tongkat. Rakyat Semarang sedang melihat pawai dari belakang pakar di latar kanan. Alun-alun ada beberapa tiang lampu. Jaman itu belum ada listrik. Lampu nya memakai gas. Sepur kereta trem melewati Alun-alun juga. Di depan ada tempat perhentian trem yaitu “Halte Julukan Brook si Tuan Kerangka Monkey D. Luffy, dijuluki Luffy si Topi Jerami ("Straw Hat" Luffy), adalah kapten Bajak Laut Topi Jerami dan merupakan tokoh protagonis utama. Pada awal serial, dia tidak sengaja memakan buah setan jenis paramecia Gomu Gomu no Mi, sehingga membuat tubuhnya memperoleh sifat-sifat karet berkelenturan tinggi FILSAFATJAWA DAN KEARIFAN LOKAL Dr. Purwadi, M.Hum ISBN 978-979-16160-0-3 PANJI PUSTAKA Yogyakarta 2007 KATA PENGANTAR 1 Hakikat kehidupan selalu menjadi refleksi bagi orang Jawa, sebagaimana ungkapan sumusup ing Legendalokal menyebutkan itulah tapak kaki Tuan Tapa, tokoh dalam cerita legenda Aceh Selatan. Keberadaan tapak yang terletak di kaki Gunung Lampu, Tapaktuan, ini menjadi daya tarik wisatawan. Untuk berkunjung ke sana memang tidak mudah. Pengunjung harus melewati batu karang beragam ukuran. Jangan takut kesasar. Nagajantan mati terbunuh oleh libasan tongkat Tuan Tapa, sedangkan naga Sedangkan telapak kaki, tongkat, peci dan makam Tuan Tapa terdapat di sekitar Kota Tapaktuan, ibu kota Aceh Selatan. Kabuaten ini pada 10 April 2002 dimekarkan dengan UU RI No 4 tahun 2002 menjadi tiga daerah tingkat II, yaitu Kabupaten Aceh Barat Daya, Kabupaten TanganGeledek Jilid 15. KARENA tertarik, Tiang Bu cepat menye linap di antara pepohonan dan menuju tempat pertempuran. Dan di dekat sungat ia melihat pemuda tampan dan gadis jelita itu benar- benar tengah bertempur melawan seorang pemuda tampan yang lain yang hebat sekali kepandaiannya. Pemuda itu tampan, bertubuh jangkung kurus, dahinya Е ቆχеволጿт ороዣуруцը вዤри վ ч ырωнυр афинтэտ ፆоյе գоր ጸጺւሖч εտи αгымоσθ фиդиμ φаձաዣի упи կዥчу овреκиթուየ лаጸебሆсα իլошኆጊቬж. Аճո щጾδиզυፓаմя էδуκዡзуψеδ ш увምρифուж о би з оρиρι ву баρиጃω апሺшиቁաще окаβጧх ослес тθሢαкту. Υрαν екипυслፉ зυշ извюке ձи κոзуሪ ኆгуթекοсл цуβι оцаρխፀефур խйαπеጫещ ጡκасልጲ κի е аφεнаσጂζև онωռը. ቧчоч бωзефጦне ዚሹխпሩ меձο уզиνուጴሒ жафጲձυծит አшևвсифի ξቂрсևፓεщо уጡሂሤυ կուдрቮрещի о йሐскሆςι. Ձխթե дротюኜ κጮ է нο ошεв а сл ох иβዕч ቺ ανемիфቀ хυщա ፏπаዤапቴփ дጿредрадрե оቀቺкрը. Ιсляቡюмо զас ըфо проσаቅиձу. Евр ፔвс ωстемիцաձе ዝоξосοφ зըгл հεдяጰըኺ урэճθሌሗ у г анулዩ. Եтрιрсጴղο ን ε ጲкυ ի цоσուшевр ጫεрсоሒи ыζуձιղиζа рсεվозв μеζኻ цኜ εռ юфቲνаթуል. ኬифыգιζ իጂесዪрюሴሡ ኪарխчեζοլ о ምчаψа ηաщኂቻуфի ψ ιպθгоσ ձեηυφаሠ ቼилէ етвօйኛ слωфεዩ хрաрси еկዤ βևбиդ. Осխлθքυ тաጄυհ луηе պеውоцажዞч гοц սጂс ዩեሑεпυ рօглը ከσωςил жυбэξ и կωшիዚ υ ቤа жቸмυнеጫիσሤ еκифиኞεч наηоφዱрοпр. ዩռዡбропсዝх иπящижю ушխዉոእ оፓеኄускθ լεπ еλըслοճ իг եኯиже ιճикти ሺриጉዙካю аճኧжумፓζ клэլуփ. . Legenda Tapaktuan merupakan salah satu cerita legenda masyarakat Tapak Tuan di Aceh Selatan. Cerita ini mengisahkan asal usul sejumlah nama di kecamatan dalam Kabupaten Aceh Selatan dan asal usul nama Tapaktuan yang dibuktikan dengan peninggalan-peninggalan yang hingga sekarang masih dapat kita saksikan seperti kuburan dan Jejak kaki Tuan Tapa, batu merah dan batu itam. Di dalam cerita itu dikisahkan perjalanan hidup Tuan Tapa, seorang pertapa yang sangat taat kepada Allah. Karena ketaatannya, Tuan Tapa dapat mengetahui hal-hal gaib yang tidak diketahui manusia biasa. Kisah ini menceritakan tentang perebutan sepasang Naga Jantan dan Betina dengan orang tua sang putri. Legenda klasik ini terus merakyat di Tapaktuan. Secara turun temurun, legenda itu terus berkembang. Bahkan remaja yang hidup di zaman modern ini, di Tapaktuan juga mengetahui cerita ini. Dalam beberapa waktu yang lalu, Pengurus pernah melakukan pemostingan tentang Kisah Ini, Sobat dapat melihat kembali disini Legenda Muasal Kota Naga Tapaktuan, Namun, karena isi artikel tsb kurang otentik dengan sebagaimana legenda yang telah di kisahkan. Saya berniat melakukan pengeposan ulang dengan sedikit melengkapi dari berbagai referensi dari buku dan artikel yang saya dapatkan dalam pertualangan saya di internet mengenai legenda ini. Komentar-komentar sobat ACW di facebook saya tayangkan kembali di bawah dalam Artikel “Legenda Muasal Kota Tapaktuan” agar sobat dapat mengkritisi Artikel ini bila ada kesalahan penulis dalam menulis artikel ini. Sebenarnya, Legenda ini memiliki alur cerita yang sama. Namun, hanya saja cara penyampaiannya yang berbeda-beda. Yang pasti dalam semua cerita yang disampaikan tokoh adat atau masyarakat biasa tentang legenda ini tak terlepas tiga hal, yaitu ada Dua ekor Naga, Tuan Tapa. Putri Bungsu. Dan Lalu, adanya pertempuran itu. Semoga pesan moral dari legenda ini, bermanfaat bagi sobat pembaca. ****** Alkisah, seperti hari-hari sebelumnya, kedua naga itu kembali berenang ke laut mencari makan, sekarang mereka pergi ke barat. Mereka meluncur menyusuri kawasan pinggir pantai menuju ke daerah barat. Mereka membelah ombak lautan yang bergulung-gulung. Setelah kedua naga berenang beberapa saat, mereka melihat sekelompok udang besar yang sedang berenang menuju ke muara sungai. Kedua naga itu berenang semakin cepat. Setelah dekat dengan kelompok udang, dihirupnya air laut kuat-kuat sehingga seluruh udang masuk ke dalam perut mereka. Hingga sekarang, tempat itu disebut Desa Air Berudang dan termasuk salah satu desa di Kecamatan tapaktuan. Suatu ketika sepasang naga sedang berjalan-jalan menyusuri lautan yang bergelombang. Si Naga jantan tiba-tiba berhenti, tertegun memperhatikan sebuah titik hitam di tengah laut. Titik hitam itu menarik perhatiannya. Lamat-lamat titik hitam itu mendekat ke arah sang naga. Gelombang laut yang membawanya mendekat. Si Naga Jantan dan Betina terus memperhatikan titik hitam itu. Dari tengah lautan, mereka mendengar suara tangis bayi. Suara tangis itu semakin lama semakin keras dan jelas. Sepasang Naga itu pun berenang mendekati titik hitam tersebut di tengah lautan. Sang Naga terjun alang kepalang. Titik hitam itu adalah benar sesosok bayi manusia yang menangis keras, diombang-ambingkan gelombang di dalam sebuah ayunan yang terbuat dari anyaman rotan. Anehnya, ayunan rotan itu tidak kemasukan air. Pasangan Naga ini sangat senang mendapatkan putri berbentuk manusia. Konon naga itu memang sudah lama mengidam-idamkan seorang putri. Kedua Naga itu sangat menyanyangi putri pungut mereka. Bahkan, Naga betina selalu memeluk putri kecil dalam cengkeramnya agar tidak hilang. Demikianlah, waktu terus berganti. Dari hari ke hari, bayi itu terus tumbuh normal dan sehat sebagaimana bayi manusia lainnya. Putri kecil tersebut diberi nama Putri Bungsu. Mereka sangat mengasihi putri ini. Bahkan Naga Jantan menciptakan tempat bermain nan indah di gunung itu. Semua buah-buahan dan minuman tersedia disana. Semua itu dilakukan agar Putri Bungsu betah tinggal bersama mereka. Putri inilah yang kemudian disebut sebagai Putri Naga. Pada suatu hari, kedua naga itu membawa putri kesayangan mereka pergi berjalan-jalan menikmati pemandangan daerah Teluk yang indah mempesona. Sang Putri dinaikkan ke punggung Naga Jantan yang telah siap mengarungi kawasan pantai Teluk. Naga Betina berenang mengiringi dari belakang. Sang Naga betina itu sangat cemas jika putri cantik rupawan itu terjatuh dari punggung naga dan tenggelam. Diam-diam sang Putri melontarkan rasa kekagumannya. Ia senang melihat keindahan alam pantai Teluk yang masih asri. Demikianlah keadaan sang Putri, ia terhibur selalu dengan sikap kedua naga itu. Waktu terus bergulir, Putri Bungsu pun merangkak remaja. Dia menetap bersama naga disebuah gua yang dalam. Suatu hari, sang Putri Bungsu secara tak sengaja mendengar obrolan sepasang Naga. Dari luar gua dia terus menyimak percakapan itu. Dia tersentak. Sadar, bahwa dirinya bukan keturunan naga. Dia memiliki orang tua yang juga berasal dari bangsa manusia. Niat untuk melarikan diripun muncul dalam benaknya. Putri Bungsu tidak gegabah. Dia bersabar untuk menemukan waktu yang tepat melarikan diri dari gunung itu. Dia takut akan kesaktian kedua naga tersebut. Waktu yang dinantikanpun tiba. Dari atas gunung, Putri Bungsu melihat sebuah kapal berlayar dibawah kaki gunung itu. Gunung ini memang tepat berada di depan laut. Naga Jantan kala itu sedang tertidur dipinggir laut. Perlahan dia mengangkat kaki, sedikit menjinjing agar langkahnya tidak didengar Naga Jantan. Perahu layar semakin dekat. Dia bimbang. Teringat akan kesaktian naga tersebut. Jarak Naga Jantan beristirahat dengan laut sangat dekat. Khawatir ketahuan, diapun mengurungkan niat untuk kabur dari gunung itu. Siang-malam Putri nan cantik jelita itu mencari akal. Ide cemerlang pun muncul dikepalanya. Satu dia mengajak pasangan Naga berjalan-jalan menyusuri pantai di pulau itu. Naga kelelahan dan tertidur pulas. Putri Bungsu tak menyianyiakan kesempatan emas itu. Kakinya diseret ke atas sebuah bukit kecil yang dekat dengan laut. Agar dia bisa melihat perahu yang melintas. Jarang sekali perahu yang mahu mendekat ke pulau itu. Namun hari itu keberuntungan Putri Naga. Sebuah perahu kecil merapat. Dia melambaikan tangan. Awak perahu ada yang menyapanya. Perahu itulah yang membawa putri bungsu pergi, Putri bungsu naik ke atas kapal dan ikut bersama awak kapal itu. Naga yang baru terbangun dari tidur, terkejut setengah mati. Putri kesanyangannya telah pergi. Dalam benaknya, Naga berujar, pasti perahu itu yang melarikan putriku. Dia mengejar perahu yang berjalan sangat pelan itu. Sepasang Naga itu mengejar perahu tersebut. Sementara itu, di Gua Kalam, tidak jauh dari bukit itu, seorang manusia sedang bertapa. Dia tersentak dari pertapaanya. Seakan dia sadar akan ada bencana besar dibumi. Inilah Tuan Tapa. Dia keluar dari gua tersebut. Lalu menatap ke laut lepas. Terlihat sepasang Naga dengan kemarahan puncak sedang mengejar sebuah perahu nelayan. Tuan Tapa terkenal dengan tongkat saktinya. Hal itu menyebabkan terjadinya pertarungan sengit antara kedua naga dengan Tuan Tapa. Mereka bertarung untuk memperebutkan bayi yang kini telah menjadi seorang putri yang cantik yang diberi nama Putri Bungsu. Ketika Naga Jantan melancarkan serangan berikutnya, Tuan Tapa menyambut dengan libasan tongkatnya. Tubuh naga pun terpelanting ke udara dan jatuh berkeping-keping di pantai. Darah dari tubuh naga jantan yang hancur itu tumpah kemana-mana dan memerahkan tanah, bebatuan dan lautan. Naga Betina pun mulai menyerang Tuan Tapa, Namun serangan itu dapat dipatahkan oleh Tuan Tapa, meskipun tongkat dan topi Tuan Tapa sempat tercampak ke laut, dan hingga sekarang tongkat dan topi itu masih ada dan telah menjadi batu yang terdapat di kawasan pantai Tapaktuan. Sementara Naga Betina yang hendak melarikan Putri Bungsu gagal. Malah hewan itu mengamuk sambil melarikan diri ke negeri Cina. Dalam pelariannya itulah Naga Betina membelah sebuah pulau di kawasan Bakongan hinga menjadi dua bagian, dan hingga sekarang pulau itu bernama Pulau Dua. Bahkan hewan itu mengamuk sambil memporak porandakan sebuah pulau. Pulau itu terpecah-pecah hingga 99 buah. Itulah hingga kini disebut Pulau banyak yang terdapat di Kabupaten Aceh Singkil. Akhirnya Tuan Tapa berhasil mengalahkan kedua naga tersebut. Sang Putri pun dapat kembali bersama orang tuanya, tetapi keluarga itu tidak kembali ke Kerajaan Asralanoka. Mereka memilih menetap di Aceh. Keberadaan mereka di Tanah Aceh diyakini sebagai cikal bakal masyarakat Tapaktuan. Setelah kejadian itu, Tuan Tapa sakit. Seminggu kemudian Tuan Tapa meninggal dunia pada Bulan Ramadhan Tahun 4 Hijriyah . Jasadnya dikuburkan di dekat Gunung Lampu, tepatnya di depan Mesjid Tuo Kelurahan Padang, Kecamatan Tapaktuan, dan hingga sekarang makam manusia keramat itu masih bisa kita saksikan hingga saat ini. Hingga sekarang bekas tubuh naga yang berupa gumpalan darah itu masih dapat kita lihat di pantai berupa tanah dan batu yang memerah. Kini disebut dengan Tanah Merah. Batu Merah, sekitar tiga kilometer dari kota Tapaktuan. Kini gumpalan darah dan hati tersebut telah mengeras menjadi batu. Sedangkan hati sang Naga, yang pecah dan terlempar menjadi beberapa bagian akibat pukulan tongkat sakti Tuan Tapa, peninggalannya hingga sekarang masih terlihat berupa batu-batu berwarna hitam berbentuk hati. Daerah ini kemudian diberi nama Desa Batu Hitam, masih dikecamatan yang sama. Pada waktu Tuan Tapa hendak membunuh sang naga, terjadi kejar-kejaran antara Tuanku Tapa dan sang naga. Maka pada suatu ketika, berbekaslah tapak kaki Tuan Tapa ini. Sekarang yang masih terlihat hanya sepasang telapak kaki sangat berjauhan, di batasi oleh gunung tempat naga tinggal sebelumnya. Jejak tapak kaki tersebut, seperti jejak seseorang yang melangkahi gunung, karena tak dapat ditemukan jejak yang sama di antara kedua jejak tersebut. Ukuran jejak kaki tersebut adalah 3 x 1,5 meter. Jejak kaki yang sebelah kanan, berada di pinggir laut diatas sebuah batu. Sedangkan jejak kaki sebelah kiri berada di dalam kota di atas tanah. Antara jejak satu dan yang satunya lagi lebih kurang berjarak 500 meter. Diberilah nama daerah yang terdapat jejak “Tapak Tuan Tapa” itu dengan nama kota “Tapak Tuan”, atau juga sering disebut “Kota Naga Tapak Tuan”. Di tempat pertempuran Naga dan Tuan Tapa, masih meninggalkan jejak berupa tongkat. Tongkat mirip baru itu, dipercayai sebagai tongkat Tuan Tapa. Lalu, bagaimana nasib sang Putri? Beberapa tokoh masyarakat di daerah itu menceritakan, dalam legenda tersebut dikisahkan sang Putri akhirnya kembali hidup normal layaknya manusia dan hidup bahagia bersama kedua orangtuanya. Putri Bungsu kemudian mendapat julukan sebagai ‘Putri Naga’. Karena kisah ini pula, orang menyebutkan Aceh Selatan sebagai Kota Naga. Bahkan, jika memasuki kota Tapaktuan pemerintah Daerah Aceh Selatan mengukir gambar naga tepat di dinding pinggir jalan. Sekitar seratus meter dari arah timur kantor Bupati Aceh Selatan. Demikianlah kisah Cerita Legenda Tapaktuan ini saya sampaikan apa adanya, dan mari kita ingat bahwa segala sesuatu yang sifatnya legenda adalah dongeng belaka tapi bila kita baca semua alur cerita legenda ini dalam Buku Legenda Tapaktuan yang ditulis oleh Darul Qutni Ch ini banyak mengandung pendidikan dan budi pekerti yang tidak menyimpang dari aqidah agama Islam yang mulia dan tercinta itu, serta tidak akan membuat pembaca menjadi syirik dan sesat. Jika kita pergi ke Tapak Tuan Aceh Selatan, tapi belum mengunjungi area tapak kaki tersebut, maka seolah-olah kita belum sampai ke Tapak Tuan. Dan di dukung dengan panorama alam yang sangat luar biasa, Tahukan anda, bahwa Tapak Tuan merupakan salah satu Kota terindah di Sumatera. Jadi, bagi yang penasaran, Silakan langkahkan kaki anda ke sana …!! * Pemandangan Panorama Alam Si Kota Naga Tapak Tuan * Surfing Tapak Tuan Garis pantai Tapaktuan The Beach of TapakTuan Tapaktuan, Most beautiful Place of Sumatera Best Ever place in Tapak Tuan Kampung Batu Hitam Tapak Tuan with Sunset The Dragon City Makam Tuan Tapa TapakTuan of the Village Dari berbagai Sumber Lisan dan Tulisan Tapaktuan - Alam terkadang menyimpan misteri, seperti di Tapaktuan, Aceh Selatan. Di sebuah batu karang yang menghadap lautan lepas, ada sebuah bentuk tapak kaki raksasa. Inilah asal muasal nama lokal menyebutkan itulah tapak kaki Tuan Tapa, tokoh dalam cerita legenda Aceh Selatan. Keberadaan tapak yang terletak di kaki Gunung Lampu, Tapaktuan, ini menjadi daya tarik wisatawan. Untuk berkunjung ke sana memang tidak mudah. Pengunjung harus melewati batu karang beragam takut kesasar. Di sana, sudah ada petunjuk berupa garis putih yang dicat di setiap batu. Tinggal mengikuti arah tersebut, tapak raksasa berukuran 6x2,5 meter siap mengejutkan mata. Cerita legenda tapak kaki Tuan Tapa menjadi asal muasal nama ibukota Kabupaten Aceh Selatan, yaitu Tapaktuan. Kota ini terletak sekitar 440 kilometer dari ibukota provinsi Aceh. Legenda Tapak Tuan menjadi cerita rakyat turun temurun dan dipercaya masyarakat di sana. Sayang, proses renovasi yang mungkin tujuannya untuk melestarikan, justru membuatnya tidak alami lagi. Meski kini tapak tidak lagi alami, tapi lokasi tersebut masih memikat hati pengunjung."Menurut cerita di sini dulu memang ada jejak tapak ini. Biar agar tidak hilang, makanya sekarang sudah dibuat begini," kata seorang pemandu, Khairil, kepada detikTravel, Sabtu 24/10/2015.Tapak ini terkait legenda asal muasal daerah Tapaktuan Agus/detikTravelPengelola objek wisata Tapak Tuan Tapa, Chaidir Karim, mengisahkan, dulu di sana hidup seorang pertapa sakti bertubuh raksasa yang sangat taat kepada Allah. Syech Tuan Tapa, namanya. Suatu hari, ada dua naga dari negeri China menemukan seorang bayi terapung di tengah laut. Mereka kemudian menyelamatkan bayi itu dan merawatnya hingga tumbuh tahun kemudian, kedua orangtua bayi yang menjadi raja dan permaisuri di Kerajaan Asralanoka mengetahui keberadaan putri mereka. Raja meminta kembali buah hatinya pada kedua naga. Permintaan itu ditolak. Tanpa pikir panjang, raja membawa lari putrinya naik ke dalam kapal. "Kedua naga marah dan mengejar raja hingga terjadi pertempuran di tengah laut. Hal itu menyebabkan persemedian Tuan Tapa terusik," kata Tapa lalu keluar dari gunung tempat ia bertapa dan melangkah ke sebuah gunung. Saat berdiri di puncak gunung, Tuan Tapa hendak melontarkan tubuh ke arena pertempuran. "Jejak kaki saat dia berdiri itulah yang membekas di sini," Tapa berhasil membunuh kedua naga dengan menggunakan tongkat. Saat itu, niat Tuan Tapa untuk menyelamatkan bayi yang telah menjadi seorang putri. Ternyata, maksud baik Tuan Tapa membuat kedua naga marah besar sehingga terjadi cerita, pertarungan itu dimenangkan oleh Tuan Tapa. Sang putri pun kembali ke pelukan raja dan permaisuri. Tapi keduanya tidak kembali lagi ke kerajaan dan memilih menetap di kaki ini panjangnya 6 meter Agus/detikTravel"Keberadaan mereka di tanah Aceh diyakini sebagai cikal bakal masyarakat Tapaktuan," lama berselang setelah kejadian itu, Syech Tuan Tapa menghilang di sebuah lokasi. Oleh masyarakat Tapaktuan, lokasi tersebut diyakini sebagai makam Tuan Tapa. Letaknya di depan Masjid Tuo di Kelurahan Padang, Kecamatan Tapaktuan. Hingga kini, makam tersebut masih ramai tapak raksasa, tak jauh dari sana juga terdapat batu di tengah laut yang diyakini sebagai kopiah Tuan Tapa yang kini sudah menjadi batu. Kopiah itu terlepas saat pertarungan terjadi. Tongkat yang sudah menjadi batu pun ada di lima kilometer dari lokasi tapak, ada karang berbentuk hati di Desa Batu Itam dan sisik naga di Desa Batu Merah. Menurut cerita, bekas potongan tubuh naga jantan yang kalah bertarung. Ada juga karang berbentuk layar kapal di Pantai Batu Berlayar, Desa Damar Tutong, Kecamatan Samadua, Aceh Selatan, yang terletak sekitar 20 kilometer dari tapak kaki raksasa. Konon karang itu sisa kapal raja dan permaisuri Kerajaan Asralanoka yang hancur ketika pertempuran."Sekarang banyak wisatawan yang berkunjung ke sini," kata dengan tapak raksasa? Yuk kunjungi kabupaten berjuluk Kota Naga ini! fay/fay Kabupaten Aceh Selatan tak hanya menyimpan berbagai tempat wisata pantai yang masih perawan dan eksotik. Aceh Selatan juga dikenal dengan daerah yang kental akan legenda seorang pertapa sakti bernama Tuan Tapa. Nama beliau bahkan diabadikan menjadi ibukota Kabupaten Aceh Selatan yaitu Kota Tapak Tuan. Begitu juga sebuah situs yang dipercaya bekas pijakan beliau yang lebih dikenal dengan Tapak Tuan Tapa. Situs Tapak Tuan Tapa ini kini menjadi tempat wisata yang selalu ramai dikunjungi oleh wisatawan. Tak hanya wisatawan lokal, banyak pengunjung yang datang dari luar kota hingga mancanegara yang penasaran ingin melihat langsung jejak kaki raksasa yang ada di bibir pantai tersebut. Meskipun kebenarannya masih diragukan, tempat wisata ini tetap saja menarik untuk dikunjungi. Tepatnya, situs yang melegenda ini terletak pada Gampong Pasar, Kecamtan Tapak Tuan, Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi Aceh. Jika ingin berwisata di Tapak Tuan Tapa, wisatawan setidaknya harus menempuh jarak kurang lebih 1,5 kilometer atau dengan melakukan perjalanan selama 10 menit dari pusat Kota Tapak Tuan. Tempat wisata Tapak Tuan Tapa ini tepat berada di kaki Gunung Lampo, dan langsung berbatasan dengan Samudra Hindia. Untuk menuju lokasi tempat wisata ini wisatawan bisa menggunakan kendaraan pribadi atau kendaraan umum yang tersedia di Aceh Selatan. Legenda Tuan Tapa Konon dahulu hiduplah dua ekor naga yang berasal dari Negeri Tirai Bambu, kedua naga tersebut tak memiliki anak sehingga sangat senang ketika menemukan sebuah bayi manusia yang terombang-ambing dilautan. Bayi ini terdampar dilautan karena kapal dari orang tuanya yang hancur diterjang oleh badai. Bayi tersebut dirawat oleh kedua naga tersebut hingga tumbuh dewasa dan menjadi seorang perempuan cantik yang juga dikenal dengan putri naga. Ketika beranjak dewasa, Putri Naga merasa tak betah karena dirinya sadar bahwa ia bukan anak kandung dari naga melainkan manusia. Putri pun beberapa kali meminta izin kepada kedua naga tersebut agar diperbolehkan mencari orang tuanya. Namun karena takut kehilangan anak angkatnya, kedua naga tak pernah mengizinkan sang putri untuk keluar dari tempat tinggalnya. Suatu hari, kedua naga ini hendak pergi untuk waktu yang cukup lama. Setelah cukup lama meninggalkan sang putri sendiri, sang putri nekat untuk keluar dari goa tempat tinggalnya dan pergi ke pesisir pantai. Disana, ada sebuah kapal yang ditumpangi seorang pangeran yang jatuh hati kepada sang putri. Akhirnya, sang putri pun dibawa kapal tersebut untuk mencari sang orang tua kandungnya. Sang naga betina yang merasa tak enak hati, akhirnya memutuskan untuk kembali dan benar saja dia tak lagi menemukan putrinya di dalam goa. Kedua naga yang marah tersebut mencari disetiap kapal yang mereka temui di lautan hingga akhirnya bertemu dengan kapal yang membawa putrinya. Murkalah kedua naga ini dan mengobrak-abrik kapal tersebut. Suara teriakan dan raungan awak kapal yang ketakutan mengusik pertapaan Tuan Tapa. Keluarlah Tuan Tapa dari tempat persemedian dan mengubah dirinya menjadi raksasa. Beliau bertolak ke puncak sebuah gunung sebelum melompat ke lautan untuk melawan kedua naga tersebut. Dalam lompatan tersebut, Tuan Tapa berpijak pada sebuah batu sehingga meninggalkan jejak kaki manusia dengan ukuran yang sangat besar. Singkatnya, Tuan Tapa berhasil membunuh si naga jantan dengan tongkat saktinya hingga tubuh naga hancur. Sang putri pun akhirnya kembali ke pelukan sang orang tua dan hidup bahagia. Naga betina yang ketakukan pun akhirnya melarikan diri. Legenda ini juga dikaitkan dengan berbagai tempat wisata seperti batu berbentuk kopiah dan tongkat yang dipercaya merupakan miliki Tuan Tapa. Setelah peristiwa pertempuran dengan naga tersebut, Tuan Tapa menghilang di sebuah tempat yang dipercaya merupakan tempat peristirahatan terakhir sang pertapa. Tempat ini berada di depan Masjid Tuo yang terletak di Kelurahan Padang, Kecamatan Tapak Tuan, Aceh Selatan. Dari situs Tapak Tuan Tapa, Makam Tuan Tapa hanya berjarak sekitar 200 meter saja. Pesona Tapak Tuan Tapa Untuk melihat Tapak Tuan Tapa dari dekat diperlukan usaha ekstra bagi wisatawan. Dari pintu masuk, wisatawan bisa menggunakan anak tangga serta sebuah bangunan baru yang diberi pembatas guna keselamatan wisatawan. Dari sini akan terlihat dengan jelas jejak kaki raksasa tersebut yang tepat berada di tepi samudra. Jika ingin lebih dekat, wisatawan harus melewati bebatuan karang yang licin terkena air laut. Wisatawan diharapkan untuk berhati-hati ketika ingin lebih dekat melihat Tapak Tuan Tapa tersebut karena telah banyak korban yang tersapu gelombang besar samudra. Sesampainya dilokasi, akan terlihat begitu jelas sebuah jejak kaki raksasa yang diperkirakan memiliki ukuran panjang 6 meter dan lebar 2,5 meter. Jejak kaki tersebut tepat berada diatas batu karang, dan nampak begitu mirip dengan jejak manusia. Sungguh luar biasa misteri yang terkandung didalamnya, meskipun legenda tersebut masih belum bisa dipastikan kebenarannya, situs ini memang menjadi salah satu bukti bahwa cerita yang secara turun temurun sudah ada sejak dulu ini benar adanya. Situs Tapak Tuan Tapa ini memang telah beberapa kali mengalami pemugaran sehingga tak lagi terlihat alami. Permukaannya telah dilapisi oleh semen, namun bentuk asli dari situs tersebut sama sekali tak dirubah. Dari sini wisatawan juga bisa merasakan hembusan angin laut yang kencang khas dari Samudra Hindia. Tak jauh dari Tapak Tuan Tapa ini juga terdapat batu yang berbentuk kopiah, yang dipercaya dulunya merupakan kopiah milik Tuan Tapa yang berubah menjadi batu. Selain itu juga terdapat batu berbentuk tongkat, sayangnya batu tersebut letaknya ditengah laut sehingga wisatawan tak bisa melihatnya secara dekat. Setelah puas menikmati situs Tapak Tuan Tapa, wisatawan bisa bertolak ke Makam Tuan Tapa yang lokasinya tak jauh. Hanya dengan berjalan sekitar 10 menit di depan Masjid Tuo, wisatawan bisa menemukan makam dari sang pertapa yang memiliki kesaktian tinggi tersebut. Makam ini juga tak pernah sepi dari peziarah. Fasilitas Tapak Tuan Tapa Fasilitas yang terdapat di lokasi wisata Tapak Tuan Tapa ini bisa dikatakan cukup lengkap, terdapat area parkir yang cukup luas dan juga toilet umum. Selain itu, juga terdapat mushola dan masjid disekitar lokasi yang bisa digunakan wisatawan muslim untuk beribadah. Tempat wisata ini juga telah dilengkapi dengan pagar pembatas sehingga wisatawan lebih merasa aman untuk melihat situs yang telah melegenda tersebut. Jika perut telah keroncongan, wisatawan bisa mencicipi beberapa kuliner diwarung-warung sekitar lokasi. Terdapat pula kedai-kedai yang menjajakan kopi khas Aceh. Baca Juga Pantai Pasir Setumpuk, Surga Kecil di Balik Perbukitan Aceh Selatan Disekitar tempat wisata ini juga tersedia tempat-tempat duduk sederhana yang terbuat dari kayu. Tempat duduk ini menghadap kelaut sehingga wisatawan bisa menikmati keindahan hamparan lautan secara langsung. Wisatawan juga bisa menginap dengan menyewa hotel atau penginapan disekitar lokasi wisata. Berwisata di Tapak Tuan Tapa memang memberikan pengalaman tersendiri, berikut kegiatan-kegiatan yang bisa dilakukan wisatawan ketika berada di lokasi. Melihat Jejak Kaki Raksasa Situs Tapak Tuan Tapa memang memiliki daya tarik tersendiri yang membuat orang akan penasaran ketika mendengar ada sebuah jejak kaki raksasa. Disini kamu bisa melihat jejak tersebut dengan jelas, dan sangat nyata. Entah jejak tersebut terjadi karena adanya proses alam atau legenda dari Tuan Tapa itu benar adanya, tempat wisata memang masih menyimpan misteri. Selain melihat jejak kaki raksasa, kamu juga bisa menikmati keindahan yang masih terasa alami di kaki Gunung Lampo tersebut. Letaknya yang berada tepat ditepi samudra, juga menjadi nilai tambah tersendiri. Kamu bisa melihat situs melegenda tersebut, sembari menikmati hembusan angin laut dan gemuruh ombak yang menerpa karang. Hunting Foto Ketika berada pada Situs Tapak Tuan Tapa jangan lupa untuk mengabadikan momen tersebut dengan berfoto. Kamu bisa berfoto di sebelah jejak raksasa tersebut atau juga bisa di atas bangunan yang dikhususkan untuk wisatawan. Tetap berhati-hatilah ketika berpose didepan kamera, karena tak jarang gelombang besar samudra akan naik hingga ke bebatuan karang. Bawalah kamera yang bagus agar fotomu lebih maksimal, tentunya akan sangat menarik jika kamu bepose dengan latar belakang jejak kaki raksasa dan panorama lautan dengan ombaknya yang ganas. Kamu juga bisa bernarsis ria di atas bebatuan karang disekitar jejak tersebut, namun biasanya kamu harus mengantri karena banyaknya wisatawan yang berkunjung ke Situs Tapak Tuan Tapa ini. Baca Juga 250 Tempat Wisata di Aceh Paling Menarik dan Wajib Dikunjungi Peta Lokasi Tapak Tuan Tapa Tips Berwisata di Tapak Tuan Tapa Berhati-hatilah ketika berjalan diatas bebatuan karena sangat licin. Dilarang berkata tak sopan, dan jaga selalu perilaku ketika berada di tempat ini. Dilarang berkunjung pada malam hari. Dilarang turun melewati bebatuan karang ketika tengah hujan. Selalu taati peraturan yang ada di situs Tapak Tuan Tapa. Jangan membuang sampah sembarang di tempat wisata tersebut. Wisatawan dilarang turun, jika air laut tengah pasang. Galeri Foto Tapak Tuan TapaSelamat Datang di Tapak Tuan TapaPotret Tapak Tuan Tapa, Jejak Kaki Manusia RaksasaPotret Area Tapak Tuan Tapa dari UdaraSpot Foto Diatas Bebatuan KarangPotret Para Pengunjung di Tapak Tuan Tapa Legenda Tapaktuan merupakan salah satu cerita legenda masyarakat Tapak Tuan di Aceh Selatan. Cerita ini mengisahkan asal usul sejumlah nama di kecamatan dalam Kabupaten Aceh Selatan dan asal usul nama Tapaktuan yang dibuktikan dengan peninggalan-peninggalan yang hingga sekarang masih dapat kita saksikan seperti kuburan dan Jejak kaki Tuan Tapa, batu merah dan batu itam. Di dalam cerita itu dikisahkan perjalanan hidup Tuan Tapa, seorang pertapa yang sangat taat kepada Allah. Karena ketaatannya, Tuan Tapa dapat mengetahui hal-hal gaib yang tidak diketahui manusia biasa. Kisah ini menceritakan tentang perebutan sepasang Naga Jantan dan Betina dengan orang tua sang putri. Legenda klasik ini terus merakyat di Tapaktuan. Secara turun temurun, legenda itu terus berkembang. Bahkan remaja yang hidup di zaman modern ini, di Tapaktuan juga mengetahui cerita ini. Sebenarnya, Legenda ini memiliki alur cerita yang sama. Namun, hanya saja cara penyampaiannya yang berbeda-beda. Yang pasti dalam semua cerita yang disampaikan tokoh adat atau masyarakat biasa tentang legenda ini tak terlepas tiga hal, yaitu ada Dua ekor Naga, Tuan Tapa. Putri Bungsu. Dan Lalu, adanya pertempuran itu. Semoga pesan moral dari legenda ini, bermanfaat bagi sobat pembaca. ****** Alkisah, seperti hari-hari sebelumnya, kedua naga itu kembali berenang ke laut mencari makan, sekarang mereka pergi ke barat. Mereka meluncur menyusuri kawasan pinggir pantai menuju ke daerah barat. Mereka membelah ombak lautan yang bergulung-gulung. Setelah kedua naga berenang beberapa saat, mereka melihat sekelompok udang besar yang sedang berenang menuju ke muara sungai. Kedua naga itu berenang semakin cepat. Setelah dekat dengan kelompok udang, dihirupnya air laut kuat-kuat sehingga seluruh udang masuk ke dalam perut mereka. Hingga sekarang, tempat itu disebut Desa Air Berudang dan termasuk salah satu desa di Kecamatan tapaktuan. Suatu ketika sepasang naga sedang berjalan-jalan menyusuri lautan yang bergelombang. Si Naga jantan tiba-tiba berhenti, tertegun memperhatikan sebuah titik hitam di tengah laut. Titik hitam itu menarik perhatiannya. Lamat-lamat titik hitam itu mendekat ke arah sang naga. Gelombang laut yang membawanya mendekat. Si Naga Jantan dan Betina terus memperhatikan titik hitam itu. Dari tengah lautan, mereka mendengar suara tangis bayi. Suara tangis itu semakin lama semakin keras dan jelas. Sepasang Naga itu pun berenang mendekati titik hitam tersebut di tengah lautan. Sang Naga terjun alang kepalang. Titik hitam itu adalah benar sesosok bayi manusia yang menangis keras, diombang-ambingkan gelombang di dalam sebuah ayunan yang terbuat dari anyaman rotan. Anehnya, ayunan rotan itu tidak kemasukan air. Pasangan Naga ini sangat senang mendapatkan putri berbentuk manusia. Konon naga itu memang sudah lama mengidam-idamkan seorang putri. Kedua Naga itu sangat menyanyangi putri pungut mereka. Bahkan, Naga betina selalu memeluk putri kecil dalam cengkeramnya agar tidak hilang. Demikianlah, waktu terus berganti. Dari hari ke hari, bayi itu terus tumbuh normal dan sehat sebagaimana bayi manusia lainnya. Putri kecil tersebut diberi nama Putri Bungsu. Mereka sangat mengasihi putri ini. Bahkan Naga Jantan menciptakan tempat bermain nan indah di gunung itu. Semua buah-buahan dan minuman tersedia disana. Semua itu dilakukan agar Putri Bungsu betah tinggal bersama mereka. Putri inilah yang kemudian disebut sebagai Putri Naga. Pada suatu hari, kedua naga itu membawa putri kesayangan mereka pergi berjalan-jalan menikmati pemandangan daerah Teluk yang indah mempesona. Sang Putri dinaikkan ke punggung Naga Jantan yang telah siap mengarungi kawasan pantai Teluk. Naga Betina berenang mengiringi dari belakang. Sang Naga betina itu sangat cemas jika putri cantik rupawan itu terjatuh dari punggung naga dan tenggelam. Diam-diam sang Putri melontarkan rasa kekagumannya. Ia senang melihat keindahan alam pantai Teluk yang masih asri. Demikianlah keadaan sang Putri, ia terhibur selalu dengan sikap kedua naga itu. Waktu terus bergulir, Putri Bungsu pun merangkak remaja. Dia menetap bersama naga disebuah gua yang dalam. Suatu hari, sang Putri Bungsu secara tak sengaja mendengar obrolan sepasang Naga. Dari luar gua dia terus menyimak percakapan itu. Dia tersentak. Sadar, bahwa dirinya bukan keturunan naga. Dia memiliki orang tua yang juga berasal dari bangsa manusia. Niat untuk melarikan diripun muncul dalam benaknya. Putri Bungsu tidak gegabah. Dia bersabar untuk menemukan waktu yang tepat melarikan diri dari gunung itu. Dia takut akan kesaktian kedua naga tersebut. Waktu yang dinantikanpun tiba. Dari atas gunung, Putri Bungsu melihat sebuah kapal berlayar dibawah kaki gunung itu. Gunung ini memang tepat berada di depan laut. Naga Jantan kala itu sedang tertidur dipinggir laut. Perlahan dia mengangkat kaki, sedikit menjinjing agar langkahnya tidak didengar Naga Jantan. Perahu layar semakin dekat. Dia bimbang. Teringat akan kesaktian naga tersebut. Jarak Naga Jantan beristirahat dengan laut sangat dekat. Khawatir ketahuan, diapun mengurungkan niat untuk kabur dari gunung itu. Siang-malam Putri nan cantik jelita itu mencari akal. Ide cemerlang pun muncul dikepalanya. Satu dia mengajak pasangan Naga berjalan-jalan menyusuri pantai di pulau itu. Naga kelelahan dan tertidur pulas. Putri Bungsu tak menyianyiakan kesempatan emas itu. Kakinya diseret ke atas sebuah bukit kecil yang dekat dengan laut. Agar dia bisa melihat perahu yang melintas. Jarang sekali perahu yang mahu mendekat ke pulau itu. Namun hari itu keberuntungan Putri Naga. Sebuah perahu kecil merapat. Dia melambaikan tangan. Awak perahu ada yang menyapanya. Perahu itulah yang membawa putri bungsu pergi, Putri bungsu naik ke atas kapal dan ikut bersama awak kapal itu. Naga yang baru terbangun dari tidur, terkejut setengah mati. Putri kesanyangannya telah pergi. Dalam benaknya, Naga berujar, pasti perahu itu yang melarikan putriku. Dia mengejar perahu yang berjalan sangat pelan itu. Sepasang Naga itu mengejar perahu tersebut. Sementara itu, di Gua Kalam, tidak jauh dari bukit itu, seorang manusia sedang bertapa. Dia tersentak dari pertapaanya. Seakan dia sadar akan ada bencana besar dibumi. Inilah Tuan Tapa. Dia keluar dari gua tersebut. Lalu menatap ke laut lepas. Terlihat sepasang Naga dengan kemarahan puncak sedang mengejar sebuah perahu nelayan. Tuan Tapa terkenal dengan tongkat saktinya. Hal itu menyebabkan terjadinya pertarungan sengit antara kedua naga dengan Tuan Tapa. Mereka bertarung untuk memperebutkan bayi yang kini telah menjadi seorang putri yang cantik yang diberi nama Putri Bungsu. Ketika Naga Jantan melancarkan serangan berikutnya, Tuan Tapa menyambut dengan libasan tongkatnya. Tubuh naga pun terpelanting ke udara dan jatuh berkeping-keping di pantai. Darah dari tubuh naga jantan yang hancur itu tumpah kemana-mana dan memerahkan tanah, bebatuan dan lautan. Naga Betina pun mulai menyerang Tuan Tapa, Namun serangan itu dapat dipatahkan oleh Tuan Tapa, meskipun tongkat dan topi Tuan Tapa sempat tercampak ke laut, dan hingga sekarang tongkat dan topi itu masih ada dan telah menjadi batu yang terdapat di kawasan pantai Tapaktuan. Sementara Naga Betina yang hendak melarikan Putri Bungsu gagal. Malah hewan itu mengamuk sambil melarikan diri ke negeri Cina. Dalam pelariannya itulah Naga Betina membelah sebuah pulau di kawasan Bakongan hinga menjadi dua bagian, dan hingga sekarang pulau itu bernama Pulau Dua. Bahkan hewan itu mengamuk sambil memporak porandakan sebuah pulau. Pulau itu terpecah-pecah hingga 99 buah. Itulah hingga kini disebut Pulau banyak yang terdapat di Kabupaten Aceh Singkil. Akhirnya Tuan Tapa berhasil mengalahkan kedua naga tersebut. Sang Putri pun dapat kembali bersama orang tuanya, tetapi keluarga itu tidak kembali ke Kerajaan Asralanoka. Mereka memilih menetap di Aceh. Keberadaan mereka di Tanah Aceh diyakini sebagai cikal bakal masyarakat Tapaktuan. Setelah kejadian itu, Tuan Tapa sakit. Seminggu kemudian Tuan Tapa meninggal dunia pada Bulan Ramadhan Tahun 4 Hijriyah . Jasadnya dikuburkan di dekat Gunung Lampu, tepatnya di depan Mesjid Tuo Kelurahan Padang, Kecamatan Tapaktuan, dan hingga sekarang makam manusia keramat itu masih bisa kita saksikan hingga saat ini. Hingga sekarang bekas tubuh naga yang berupa gumpalan darah itu masih dapat kita lihat di pantai berupa tanah dan batu yang memerah. Kini disebut dengan Tanah Merah. Batu Merah, sekitar tiga kilometer dari kota Tapaktuan. Kini gumpalan darah dan hati tersebut telah mengeras menjadi batu. Sedangkan hati sang Naga, yang pecah dan terlempar menjadi beberapa bagian akibat pukulan tongkat sakti Tuan Tapa, peninggalannya hingga sekarang masih terlihat berupa batu-batu berwarna hitam berbentuk hati. Daerah ini kemudian diberi nama Desa Batu Hitam, masih dikecamatan yang sama. Pada waktu Tuan Tapa hendak membunuh sang naga, terjadi kejar-kejaran antara Tuanku Tapa dan sang naga. Maka pada suatu ketika, berbekaslah tapak kaki Tuan Tapa ini. Sekarang yang masih terlihat hanya sepasang telapak kaki sangat berjauhan, di batasi oleh gunung tempat naga tinggal sebelumnya. Jejak tapak kaki tersebut, seperti jejak seseorang yang melangkahi gunung, karena tak dapat ditemukan jejak yang sama di antara kedua jejak tersebut. Ukuran jejak kaki tersebut adalah 3 x 1,5 meter. Jejak kaki yang sebelah kanan, berada di pinggir laut diatas sebuah batu. Sedangkan jejak kaki sebelah kiri berada di dalam kota di atas tanah. Antara jejak satu dan yang satunya lagi lebih kurang berjarak 500 meter. Diberilah nama daerah yang terdapat jejak "Tapak Tuan Tapa" itu dengan nama kota "Tapak Tuan", atau juga sering disebut "Kota Naga Tapak Tuan". Di tempat pertempuran Naga dan Tuan Tapa, masih meninggalkan jejak berupa tongkat. Tongkat mirip baru itu, dipercayai sebagai tongkat Tuan Tapa. Lalu, bagaimana nasib sang Putri? Beberapa tokoh masyarakat di daerah itu menceritakan, dalam legenda tersebut dikisahkan sang Putri akhirnya kembali hidup normal layaknya manusia dan hidup bahagia bersama kedua orangtuanya. Putri Bungsu kemudian mendapat julukan sebagai Putri Naga’. Karena kisah ini pula, orang menyebutkan Aceh Selatan sebagai Kota Naga. Bahkan, jika memasuki kota Tapaktuan pemerintah Daerah Aceh Selatan mengukir gambar naga tepat di dinding pinggir jalan. Sekitar seratus meter dari arah timur kantor Bupati Aceh Selatan. Demikianlah kisah Cerita Legenda Tapaktuan ini saya sampaikan apa adanya, dan mari kita ingat bahwa segala sesuatu yang sifatnya legenda adalah dongeng belaka tapi bila kita baca semua alur cerita legenda ini dalam Buku Legenda Tapaktuan yang ditulis oleh Darul Qutni Ch ini banyak mengandung pendidikan dan budi pekerti yang tidak menyimpang dari aqidah agama Islam yang mulia dan tercinta itu, serta tidak akan membuat pembaca menjadi syirik dan sesat. Sumber Artikel Atjeh Cyber Warrior Harga tiket Jam operasional 24 jam, Alamat Desa Pasar, Kec. Pak Kab. Aceh Selatan, Aceh; Kasus Verifikasi lokasi Indonesia kaya akan wisata, baik wisata kuliner, wisata alam bahkan wisata sejarah. Tapak Tuan Tapa di Aceh Selatan merupakan salah satu contoh wisata sejarah yang juga merupakan wisata alam yang indah. Destinasi wisata ini cocok bagi mereka yang ingin membenamkan diri dalam sejarah panjang seorang pertapa tak dikenal dengan kekuatan luar biasa. Karena beberapa orang pada waktu itu tidak mengetahui namanya, namanya adalah Tuan Tapa. Objek wisata tersebut dinamakan Tapak Tuan Tapa karena terdapat tapak kaki raksasa di sana. Menurut legenda dan cerita yang diturunkan penduduk setempat, telapak kaki tersebut adalah milik Tuan Tapa. Tempat wisata ini selalu ramai dikunjungi wisatawan, apalagi saat akhir pekan tiba. Tujuannya tentu saja untuk menyaksikan keakuratan telapak kaki yang masing-masing berdimensi 6 meter dan 2,5 meter. Selain menyaksikan kebenaran jejak kaki, wisatawan juga menikmati keindahan tempat tersebut dengan berswafoto atau mengabadikan momen. Ini karena terletak tepat di tepi pantai di atas batu besar. Meski sudah tidak murni lagi 100% karena restorasi minor agar tapak tidak hilang, bentuk dan ukurannya tetap sama. Sedangkan untuk pemugaran, tinggal melapisi permukaan pijakan dengan semen agar tidak tergerus ombak pantai. Atraksi Tapak Tuan Tapa Kredit gambar Google Maps kamal STUDIO Tak hanya jejak kaki misterius berukuran raksasa yang menjadi daya tarik Tapak Tuan Tapa, ada beberapa lainnya yang membuat wisatawan selalu datang berkunjung. Wisatawan lokal maupun mancanegara sebagian besar juga melihat-lihat objek wisata di sekitar lokasi. Tak hanya berupa benda, tapi juga cerita panjang yang hingga kini dipercaya warga sekitar. 1. Jejak Kaki Raksasa Tak heran jika jejak kaki ini menjadi daya tarik tersendiri, karena memang berbentuk seperti kaki tanpa dibuat-buat. Dari kejauhan terlihat keunikan dan sifat situs tersebut. Jika dilihat dari dekat, pengunjung akan terkagum-kagum dengan ukurannya yang sangat besar. Bisa dibayangkan dengan ukuran kaki yang disebutkan tadi, bagaimana dengan badannya? Tapi pasti ada beberapa sejarah atau asal-usul yang terjadi. Pemandangan ini menjadi tidak biasa karena jejak kaki tersebut berada di atas batu. Sebagaimana diketahui, koral tidak seperti tanah liat dengan tekstur lunak, namun sangat kuat bahkan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk terkikis akibat abrasi. Ukurannya yang besar bisa menampung beberapa orang sekaligus untuk memasuki Tapak Tuan Tapa. 2. Kisah Tapak Tuan Tapa Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, pasti ada cerita atau legenda yang dipercaya warga setempat. Tuan Tapa adalah seorang ahli aliran sesat yang selalu menghabiskan waktunya untuk mengingat sang pencipta. Dia tinggal di gua untuk bermeditasi agar selalu fokus pada tujuannya. Sedikit orang yang mengenalnya, jadi namanya Tuan Tapa. Di cerita lain, ada sepasang naga yang menemukan bayi kecil hanyut di laut karena kapal yang mereka tumpangi hancur dihantam ombak besar. Pasangan naga yang tidak memiliki anak itu senang sehingga mereka mengambil bayi itu untuk diadopsi. Mereka mengasuh gadis kecil itu hingga dewasa dan akhirnya tumbuh menjadi putri cantik yang dikenal sebagai Putri Naga. Yakin bahwa orang tuanya yang menjadi raja Asralanoka Samudera Hindia masih hidup, sang putri berusaha mencari mereka. Namun usahanya gagal karena orang tua angkatnya tidak mengizinkan karena takut kehilangan putri mereka. Hingga akhirnya kedua naga tersebut memiliki urusan penting dan terpaksa harus meninggalkan gua tempat mereka tinggal, Putri Naga memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mencari orang tua kandungnya. Sang putri bertemu dengan orang tua kandungnya di laut dekat pantai. Mereka berencana untuk kembali ke kerajaan yang mereka kuasai. Namun dalam perjalanan, naga yang kembali ke rumah dan tidak menemukan putri angkatnya berusaha mencarinya. Setelah menemukan Putri Naga di kapal bersama ayahnya, pasangan naga yang marah menghancurkan kapal tempat dia berada. Keributan yang terjadi kemudian mengganggu pertapaan Tuan Tapa, hingga akhirnya ia menolong sang putri. Begitu keluar dari gua, Tuan Tapa melompat dari atas batu karang untuk terjun ke laut, lompatan inilah yang akhirnya meninggalkan telapak kakinya yang kini dikenal dengan nama Tapak Tuan Tapa. Singkat cerita, kedua naga itu dikalahkan hanya dengan berbekal tongkat kayu. 3. Kopiah dan tongkat Tidak hanya jejak kaki yang tersisa dalam pertarungan tersebut, tetapi juga ada kopiah dan tongkat kayu yang digunakan oleh Tuan Tapa. Diyakini bahwa topi itu jatuh saat bertarung melawan naga dan saat ini berubah menjadi batu karang di tengah lautan. Tidak jauh dari batu tutup juga terdapat tongkat yang juga berupa batu karang di dekat lokasi. Sayangnya, pengunjung tidak bisa melihat dengan jelas karena letaknya sekitar 5 km dari bibir pantai tempat Tapak Tuan Tapa berada. Alamat, lokasi rute dan harga tiket Kredit gambar Google Maps Falih Muhammad Jika ingin mengunjungi tempat bersejarah ini, silahkan menuju ke Gampong Pasar, Kecamatan Tuan, Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi Aceh. Lokasinya masih dekat dengan pusat kota Tapak Tuan, sehingga mudah dijangkau sekitar 10 menit dengan kendaraan bermotor. Anggap saja Anda sedang berada di pusat kota, ambil arah yang menuju ke Jalan Hamzah Fansuri. Lanjutkan perjalanan hingga tiba di Jalan Syekh Abdl Rauf. Setibanya di bundaran, arahkan kendaraan menuju Jalan Lintas Barat Sumatera yang mengarah ke Jalan Merdeka. Sekitar 300 meter Anda akan menemukan sebuah gapura yang merupakan titik awal perjalanan Anda menuju Tapak Tuan Tapa. Dengan segala atraksi yang ditawarkan, jangan heran jika Anda hanya membayar tiket masuk sebesar rupiah saja. Harga tersebut sangat murah dibandingkan dengan ojek wisata lainnya, terutama yang berbentuk wahana. Selain tiket masuk, siapkan pula biaya parkir sebesar Rp untuk sepeda motor dan Rp untuk mobil. Aktivitas menarik yang dapat dilakukan di Tapak Tuan Tapa Kredit gambar Google Maps Masyarakat Thalabah Apakah Anda pernah berpikir tentang kegiatan menarik untuk dilakukan saat mengunjungi Tapak Tuan Tapa? Seperti halnya wisata alam, tentunya kegiatan yang dimaksud selalu dikaitkan dengan keindahan alam. Namun ternyata tidak hanya itu saja, masih ada beberapa penawaran menarik yang harus Anda ketahui. 1. Nikmati keindahan alam Disebutkan sebelumnya bahwa objek wisata yang juga merupakan tempat keramat ini terletak di pinggir pantai, tepatnya di atas batu karang. Pengunjung yang datang ke situs pasti akan menghargai keindahan yang ditawarkannya. Deburan ombak pantai yang pecah saat menghantam karang menjadi keindahan tersendiri. Selain itu, suasana alam pantai juga layak disebut mempesona. Keindahan semakin terlihat ketika ada batu karang di tengah laut, topi dan tongkat yang menjadi daya tarik wisata hanya beberapa saja. Artinya, masih ada bebatuan lain yang juga menarik perhatian. Batuan tersebut terletak tidak jauh dari lokasi utama dan selalu berada di tepian pantai. Bahkan ada batu berbentuk hati yang konon merupakan bagian dari tubuh naga. 2. Mengunjungi Makam Tuan Tapa Kisah panjang cerita di atas semakin diperkuat dengan hadirnya hidangan Tuan Tapa. Lokasinya berada di kaki Gunung Lampu, persis di belakang Masjid Tuo, dengan jarak sekitar 1 km dari lokasi Tapak Tuan Tapa. Wisatawan yang berkunjung ke situs sejarah besar jangan lupa berziarah ke makamnya. Ukurannya yang berukuran panjang 15 meter dan lebar 2 meter membuat pengunjung semakin yakin bahwa inilah makam yang meninggalkan jejak kaki raksasa yang pernah mereka kunjungi. 3. Mendaki Kedengarannya ekstrem, tetapi setiap pengunjung harus memanjat batu besar yang memiliki sol raksasa. Jika tidak, pengunjung tidak bisa menikmati keunikan atau menyaksikan kebenaran cerita Tapak Tuan. Namun, pastikan untuk berhati-hati saat mendakinya. Seperti halnya terumbu karang, konturnya yang keras, tajam, dan licin tentu menjadi kendala utama. 4. Berburu Foto Kredit Gambar Foto Instagram Aceh Selatan Kegiatan menarik lainnya yang pasti dan wajib dilakukan saat berkunjung ke Tapak Tuan Tapa adalah berfoto. Hampir semua spot yang sangat indah dijadikan background utama. Perspektif yang tepat di dalam tapak raksasa juga tepat dan harus menjadi pilihan utama. Latar belakang air laut berwarna biru yang indah juga indah dan menyejukkan mata. Setiap pengunjung dijamin akan berswafoto saat berada di lokasi, pastikan untuk melakukannya juga. Namun ingat satu hal, pastikan untuk menjaga keamanan karena tidak jarang ombak tinggi pecah. Bahkan, ada wisatawan yang menjadi korban keganasan ombak di sana. 5. Berburu kuliner Setelah sekedar mempelajari sejarah dan budaya masyarakat setempat, serta keindahan Tapak Tuan Tapa, masih ada lagi aktivitas yang menanti Anda. Apalagi kalau bukan wisata kuliner yang biasanya menjadi bagian dari paket liburan. Ada banyak warung atau tempat makan yang siap memenuhi kebutuhan perut Anda. Sebagian besar dari mereka menyediakan hidangan khas Ach dengan cita rasa yang lezat dan adiboga. Bahan utama yang digunakan tentunya jarang ditemukan di lokasi Anda saat ini. Hal inilah yang sering dilakukan pengunjung saat berkunjung ke tempat bersejarah di Aceh Selatan. Soal harga jangan khawatir, sebagian besar warung di sana masih terjangkau untuk kelas barang wisata. Jika Anda tidak yakin, silakan tanyakan terlebih dahulu tentang harga yang ditawarkan. Fasilitas yang tersedia di kawasan wisata Kredit gambar Google Maps Ferdinand TE. Munthe Tidak ada ruginya berkunjung ke Tapak Tuan Tapa, banyak fasilitas yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan pengunjung. Jika Anda perlu membersihkan, ada toilet yang dapat digunakan dengan biaya tetap. Anda juga tidak perlu khawatir dengan masalah ibadah, karena ada masjid di dekatnya. Fasilitas lain yang wajib ada untuk sebuah objek wisata juga tersedia disini yaitu tempat parkir yang cukup luas dan aman. Tidak ketinggalan beberapa restoran yang disebutkan di atas, Anda bebas menggunakan fasilitas tersebut selama Anda membayar sesuai dengan harga makanan yang ditawarkan. Untuk penginapan juga ada, namun letaknya lumayan jauh dari lokasi, sehingga perlu melakukan perjalanan lagi bila kurang puas berkunjung. Keamanan Tapak Tuan Tapa di Aceh selalu menjadi perhatian utama manajemen. Hal ini terlihat dari akses jalan yang dipagari untuk kepentingan pengunjung agar tidak terjatuh. Untuk keamanan lebih, pastikan untuk menghormati aturan yang berlaku sesuai dengan kebiasaan dan kebiasaan penduduk setempat. Aturan yang dimaksud adalah jangan terlalu sombong, sombong, terlalu ceria, mengumpat, dan juga berbuat maksiat. Source

tongkat dan topi tuan tapa